Pemain muda Real Madrid, Franco Mastantuono, didesak untuk lebih tangguh dan menunjukkan keberanian yang lebih besar jika ingin sukses di Santiago Bernabeu, dengan legenda Argentina Mario Kempes memperingatkan bahwa kesabaran terhadap talenta muda di klub raksasa Spanyol itu sangat tipis.
Pemain berusia 18 tahun itu, yang didatangkan dari River Plate dengan harga lebih dari €60 juta musim panas lalu, datang dengan ekspektasi yang sangat tinggi, tetapi performanya menurun dalam beberapa bulan terakhir setelah mengalami cedera, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang adaptasinya terhadap kehidupan di salah satu klub sepak bola paling menuntut.
Kempes, pemenang Piala Dunia bersama Argentina, memberikan penilaian blak-blakan tentang situasi Mastantuono, menekankan bahwa lingkungan di Real Madrid tidak memberi ruang untuk keraguan.
Kempes memperingatkan bahwa kecuali Mastantuono mulai secara konsisten menunjukkan bakat yang membuatnya pindah ke Eropa, masa depannya di klub bisa terancam.
Dalam perbandingan yang kemungkinan akan membuat pendukung Madrid frustrasi, Kempes menunjuk pemain muda Barcelona, Lamine Yamal, sebagai contoh bagaimana seorang pemain muda harus menangani tekanan di level elite.
Ia memuji keberanian dan kesediaan Yamal untuk mengambil risiko, dengan berpendapat bahwa Mastantuono harus menemukan kembali kepercayaan diri yang ia tunjukkan di Argentina dan siap bekerja lebih keras daripada bintang-bintang mapan seperti Kylian Mbappe, Vinicius Junior, dan Rodrygo hingga ia mendapatkan status yang sama di dalam skuad.
“Yamal terus meminta bola, melewati para pemain bertahan, dan menembak,” kata Kempes. “Itulah yang harus dilakukan Mastantuono. Dia harus berkorban 20 kali lebih banyak daripada Mbappe atau Vinicius.”
Mantan striker itu menambahkan bahwa usaha saja tidak cukup, dan mendesak remaja tersebut untuk menjadi protagonis daripada sekadar penumpang dengan menggabungkan kerja keras dengan kontribusi serangan yang menentukan.
Perkembangan pesat Yamal juga menuai pujian yang luar biasa dari dalam Barcelona, dengan legenda klub Andres Iniesta mendukung sang pemain sayap untuk mencapai puncak tertinggi sepak bola dunia.
Saat menyelesaikan kualifikasi kepelatihannya di Dubai, Iniesta menyoroti “keahlian alami” Yamal yang luar biasa dan menegaskan bahwa pertumbuhan dan disiplin yang berkelanjutan dapat menjadikan pemain berusia 18 tahun itu sebagai “salah satu pemain terhebat” di generasinya.
Saat Mastantuono berupaya menghidupkan kembali kariernya di Madrid dan Yamal terus memikul beban kreativitas Barcelona, kedua remaja ini tetap menjadi figur sentral dalam era sepak bola Spanyol berikutnya.

















